Likes Tak Seharga Nyawa: Bahaya Tren “Freestyle” di Kalangan Anak
Table of Contents
![]() |
| Dok. Illustrasi |
STCPOS. ID - Fenomena tren “freestyle” di kalangan anak-anak kian marak seiring derasnya arus konten viral di media sosial. Aksi-aksi berisiko seperti melompat dari ketinggian, beratraksi tanpa pengaman, hingga meniru gerakan ekstrem demi mendapatkan perhatian, kini dianggap sebagai hal lumrah.(07/05/2026)
Padahal, di balik sensasi tersebut, tersimpan ancaman serius yang dapat berujung pada cedera parah bahkan kehilangan nyawa.
Normalisasi terhadap perilaku berbahaya ini menjadi persoalan yang tidak bisa dianggap sepele. Anak-anak, yang secara psikologis cenderung meniru, kerap mencoba hal-hal viral tanpa memahami risiko di baliknya. Keinginan untuk diakui, mendapatkan “likes”, dan menjadi bagian dari tren membuat mereka mengabaikan aspek keselamatan.
Orang tua siswa SD di wilayah cisoka Ika (41), mengaku khawatir dengan maraknya tren tersebut. Ia mengatakan bahwa anak-anak saat ini sangat mudah terpengaruh oleh apa yang mereka lihat di media sosial.
“Kadang kita sudah melarang, tapi mereka tetap penasaran karena melihat temannya atau konten di internet. Kami sebagai orang tua jadi harus ekstra mengawasi, karena risikonya bukan main-main,” ujarnya.
Kasus cedera akibat aktivitas berisiko ini pun bukan sekadar kemungkinan. Di berbagai daerah, telah terjadi insiden mulai dari luka serius, patah tulang, cedera kepala, hingga kondisi lumpuh permanen. Banyak di antaranya berawal dari aksi yang direkam untuk dibagikan secara daring.
Tian arsy, Pimpinan Redaksi Serang Timur Saat di temui di kantor Redaksi, menilai bahwa fenomena ini harus menjadi perhatian bersama, tidak hanya keluarga, tetapi juga sekolah dan pemerintah.
“Tren digital tidak bisa kita hentikan, tetapi bisa kita arahkan. Yang menjadi masalah adalah ketika ruang digital dibiarkan tanpa literasi yang memadai. Anak-anak butuh edukasi keselamatan sejak dini, bukan hanya larangan. Perlu ada kolaborasi antara orang tua, sekolah, dan pemerintah untuk menciptakan lingkungan yang aman,” tegasnya.
Peran orang tua menjadi kunci utama dalam pencegahan. Pengawasan terhadap aktivitas anak, baik secara langsung maupun melalui media sosial, perlu diperkuat. Komunikasi terbuka dan pendekatan yang edukatif menjadi cara efektif untuk memberikan pemahaman tanpa menimbulkan resistensi pada anak.
Di sisi lain, sekolah juga memiliki tanggung jawab besar dalam memberikan edukasi terkait bahaya aktivitas berisiko. Guru diharapkan dapat menyisipkan nilai-nilai keselamatan dalam pembelajaran, serta aktif mengingatkan siswa tentang dampak dari perilaku nekat yang hanya berorientasi pada popularitas sesaat.
Lebih jauh, masyarakat juga diimbau untuk tidak turut mempopulerkan konten-konten berbahaya. Setiap interaksi di media sosial baik menonton, menyukai, maupun membagikan - secara tidak langsung dapat memperkuat tren tersebut.
Anak-anak tidak hanya membutuhkan larangan, tetapi juga arahan dan pendampingan. Mereka perlu ruang untuk berekspresi, namun tetap dalam batas aman dan bertanggung jawab.
Ingat, cedera bukan konten. Nyawa bukan permainan.(*Red)
