Abrasi Kali Cidurian Terus Dibiarkan, Enam Rumah Warga Slapajang Rusak Parah
STCPOS.ID | Abrasi Kali Cidurian kembali menampakkan dampak serius bagi warga. Sedikitnya enam rumah di Kampung Slapajang RT 01/01, Desa Carenang, Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang, mengalami kerusakan berat akibat gerusan aliran sungai yang terus terjadi tanpa penanganan permanen.
Pantauan langsung di lokasi pada Minggu (4/1/2026) menunjukkan kondisi bangunan warga dalam situasi mengkhawatirkan.
Pondasi rumah amblas, lantai keramik runtuh dan terseret arus. Jarak antara bibir sungai dan rumah warga kini semakin menyempit, mengancam keselamatan penghuni.
Warga mengungkapkan abrasi bukanlah peristiwa baru. Fenomena ini telah berlangsung bertahun-tahun dan selalu memburuk saat musim hujan tiba. Namun hingga kini, tidak terlihat adanya pembangunan turap permanen maupun langkah mitigasi struktural dari pemerintah daerah.
“Setiap hujan besar, tanah terus hilang. Kami hanya bisa pasrah dan berjaga kalau-kalau rumah ambruk,” ujar salah satu warga terdampak.
Kondisi tersebut menuai kritik keras dari Enjen jaenata, aktivis Cisoka, yang menilai abrasi Kali Cidurian sebagai bukti lemahnya kehadiran negara dalam melindungi warganya.
“Ini bukan bencana alam murni, ini bencana karena pembiaran. Abrasi Kali Cidurian sudah lama terjadi, tapi tidak pernah ditangani secara serius dan permanen. Yang selalu jadi korban adalah warga kecil,” tegas Enjen.
Ia menambahkan, pemerintah tidak boleh menunggu jatuhnya korban jiwa baru bertindak.
“Kalau sekarang enam rumah sudah rusak, jangan tunggu sampai belasan rumah roboh atau ada korban. Pemerintah harus segera membangun turap permanen dan melakukan normalisasi sungai. Keselamatan warga itu tanggung jawab negara,” lanjutnya.
Warga Bertahan dengan Cara Darurat
Hasil investigasi di lapangan juga menemukan, warga hanya mampu melakukan penanganan darurat menggunakan batu, puing bangunan, untuk menahan laju abrasi. Upaya tersebut dinilai tidak efektif menghadapi derasnya arus Kali Cidurian, terutama saat debit air meningkat.
Situasi ini memunculkan pertanyaan serius mengenai fungsi pengawasan sungai, mitigasi bencana, serta prioritas anggaran infrastruktur di wilayah rawan abrasi. Padahal, Kali Cidurian merupakan sungai besar yang melintasi banyak permukiman padat di Kabupaten Tangerang.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah setempat maupun dinas terkait mengenai rencana penanganan permanen abrasi di Kampung Slapajang.
Abrasi Kali Cidurian yang terus dibiarkan bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi ancaman nyata terhadap keselamatan warga dan kelalaian tata kelola sungai. Jika pembiaran terus berlangsung, bencana yang lebih besar tinggal menunggu waktu. (*/Jamal)
